Rabu, 26 Oktober 2016

Epistemologi Matematika



Kebenaran Spiritual dan Kebenaran Matematika


Manusia adalah makhluk yang selalu berusaha menemukan kebenaran. Beberapa cara ditempuh untuk memperoleh kebenaran, diantaranya adalah menggunakan rasio (rasionalis) dan juga menggunakan pengalaman (empiris). Dalam usaha mencari kebenaran tersebut, terkadang manusia melupakan hakikat kebenaran yang sebenarnya. Kata “kebenaran” sendiri memiliki pemaknaan yang berbeda-beda bagi tiap individu tergantung dari sudut pandangnya.

Kebenaran menurut matematika, mungkin akan berbeda dengan kebenaran menurut Islam. Hal ini dikarenakan matematika adalah ilmu pasti yang membutuhkan pembuktian dan kesepakatan. Sedangkan Islam meyakini segala sesuatu yang datangnya dari Allah adalah kebenaran. Ilmuwan yang mendalami matematika cenderung berpikir sesuatu secara ilmiah, logis, dan realistis. Berbeda dengan orang-orang yang mendalami spiritual yang cenderung mempercayai bahwa segala sesuatu di dunia ini tidak lepas dari pengaruh ghaib, mistis, dan bahkan susah dinalar manusia awam. Namun demikian, antara kedua sudut pandang tersebut terdapat keterkaitan yang signifikan. Jika pengetahuan matematika dan pengetahuan spiritual terkonvergensi dan bergabung akan menimbulkan interaksi menakjubkan. Interaksi ini pula yang melahirkan pengetahuan-pengetahuan populer dan digunakan untuk kemajuan peradaban manusia hingga saat ini (Rauff, 2000:58).


Secara epistemologis kebenaran adalah kesesuaian antara apa yang diklaim sebagai diketahui dengan kenyataan yang sebenarnya yang menjadi objek pengetahuan. Kebenaran terletak pada kesesuaian antara subjek dan objek, yaitu apa yang diketahui subjek dan realitas sebagaimana adanya (Sonny Keraf, 2002:66) matematika adalah ilmu yang menganut teori kebenaran sebagai Keteguhan. Teori ini dianut oleh kaum rasionalitas seperti Leibniz, Spinoza, Descartes, Heggel, dan lainnya. Kebenaran ditemukan dalam relasi antara proposisi baru dengan proposisi yang sudah ada. Suatu pengetahuan, teori, pernyataan, proposisi atau hipotesis dianggap benar kalau sejalan dengan pengetahuan, teori, proposisi atau hipotesis lainnya, yaitu kalau proposisi itu meneguhkan dan konsisten dengan proposisi sebelumnya yang dianggap benar. Matematika dan ilmu-ilmu pasti sangat menekankan teori kebenaran ini (Resnick, 1998).

Ada dua teori tentang kebenaran dalam Matematika, yaitu teori korespondensi dan teori koherensi.
a.    Teori Korespondensi
Teori korespondensi (the correspondence theory of truth) menunjukkan bahwa suatu pernyataan akan bernilai benar jika hal-hal yang terkandung di dalam pernyataan tersebut sesuai atau cocok dengan keadaan yang sesungguhnya. Contoh, “Semua manusia akan mati,” merupakan suatu pernyataan yang bernilai benar karena kenyataannya memang demikian.
b.    Teori Koherensi
Teori koherensi menyatakan bahwa suatu kalimat akan bernilai benar jika pernyataan yang terkandung di dalam kalimat itu bersifat koheren, konsisten, atau tidak bertentangan dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya yang dianggap benar. Contohnya, pengetahuan Aljabar telah didasarkan pada pernyataan pangkal yang dianggap benar. Pernyataan yang dianggap benar itu disebut aksioma atau postulat.

Resnick (Resnick, 1998) menawarkan beberapa gagasan tentang kebenaran dalam matematika. Resnick melihat setidaknya terdapat dua aspek kebenaran matematika: kebenaran imanen dan kebenaran transenden ( Rauff, 2000:63). Kebenaran imanen dapat diartikan bahwa sebuah kebenaran yang hanya berlaku untuk pernyataan yang ada dalam lingkup matematika saja. Objek matematika diyakini kebenarannya dalam konteks matematika saja. Dengan kata lain, pernyataan yang diyakini benar secara matematika, belum tentu benar bila dilihat dari sudut pandang yang lain. Kebenaran ini tidak bergantung pada hal-hal, hubungan, atau pengamatan di luar bidang matematika (Rauff, 2000:64)

Kebenaran matematika imanen dapat dipertentangkan dengan kebenaran matematika transenden, yang mencari dukungan mengacu pada benda-benda fisik atau korespondensi antara objek matematika dan objek non-matematika. Kebenaran transenden matematika dibuktikan melalui eksperimen serta pembuktian. Sebagai contoh, sebagai kebenaran transenden matematika, 2 + 1 = 3 membuat pernyataan tentang jumlah orang di dalam mobil saya setelah saya dan anak saya bertemu dan menjemput istri saya. Kebenaran persamaan itu dikonfirmasi melalui korespondensi untuk dunia pengalaman saya. Saya telah mempelajari bahwa 2 + 1 = 3 adalah benar dalam kasus ini karena Saya memahami konsep dari himpunan dan beberapa prinsip-prinsip logika sederhana. Ini adalah kebenaran dalam konteks himpunan dan logika dan akan berlaku bagi siapa saja bersedia menerimanya (Rauff, 2000).


Refrensi :  
Imam Wahyudi, Refleksi Kebenaran Ilmu, Jurnal Filsafat, Desember 2004, Jilid 38, Nomor 3
Musrida, Irvan Jaya. 2010. Teori-Teori Kebenaran Filsafat. Jakarta : PT Gelora Aksara Pratama
Picture : Google.com
.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar