Kebenaran Spiritual dan Kebenaran Matematika
Manusia
adalah makhluk yang selalu berusaha menemukan kebenaran. Beberapa cara ditempuh
untuk memperoleh kebenaran, diantaranya adalah menggunakan rasio (rasionalis)
dan juga menggunakan pengalaman (empiris). Dalam usaha mencari kebenaran
tersebut, terkadang manusia melupakan hakikat kebenaran yang sebenarnya. Kata
“kebenaran” sendiri memiliki pemaknaan yang berbeda-beda bagi tiap individu
tergantung dari sudut pandangnya.
Kebenaran
menurut matematika, mungkin akan berbeda dengan kebenaran menurut Islam. Hal
ini dikarenakan matematika adalah ilmu pasti yang membutuhkan pembuktian dan
kesepakatan. Sedangkan Islam meyakini segala sesuatu yang datangnya dari Allah
adalah kebenaran. Ilmuwan yang mendalami matematika
cenderung berpikir sesuatu secara ilmiah, logis, dan realistis. Berbeda dengan
orang-orang yang mendalami spiritual yang cenderung mempercayai bahwa segala
sesuatu di dunia ini tidak lepas dari pengaruh ghaib, mistis, dan bahkan susah
dinalar manusia awam. Namun demikian, antara kedua sudut pandang tersebut
terdapat keterkaitan yang signifikan. Jika pengetahuan matematika dan
pengetahuan spiritual terkonvergensi dan bergabung akan menimbulkan interaksi
menakjubkan. Interaksi ini pula yang melahirkan pengetahuan-pengetahuan populer
dan digunakan untuk kemajuan peradaban manusia hingga saat ini (Rauff,
2000:58).
Secara
epistemologis kebenaran adalah kesesuaian antara apa yang diklaim sebagai
diketahui dengan kenyataan yang sebenarnya yang menjadi objek pengetahuan.
Kebenaran terletak pada kesesuaian antara subjek dan objek, yaitu apa yang
diketahui subjek dan realitas sebagaimana adanya (Sonny Keraf, 2002:66) matematika
adalah ilmu yang menganut teori kebenaran sebagai Keteguhan. Teori ini dianut
oleh kaum rasionalitas seperti Leibniz, Spinoza, Descartes, Heggel, dan
lainnya. Kebenaran ditemukan dalam relasi antara proposisi baru dengan
proposisi yang sudah ada. Suatu pengetahuan, teori, pernyataan, proposisi atau
hipotesis dianggap benar kalau sejalan dengan pengetahuan, teori, proposisi
atau hipotesis lainnya, yaitu kalau proposisi itu meneguhkan dan konsisten
dengan proposisi sebelumnya yang dianggap benar. Matematika dan ilmu-ilmu pasti
sangat menekankan teori kebenaran ini (Resnick, 1998).
Ada
dua teori tentang kebenaran dalam Matematika, yaitu teori korespondensi dan
teori koherensi.
a.
Teori
Korespondensi
Teori
korespondensi (the correspondence theory of truth) menunjukkan bahwa suatu
pernyataan akan bernilai benar jika hal-hal yang terkandung di dalam pernyataan
tersebut sesuai atau cocok dengan keadaan yang sesungguhnya. Contoh, “Semua
manusia akan mati,” merupakan suatu pernyataan yang bernilai benar karena kenyataannya
memang demikian.
b.
Teori
Koherensi
Teori
koherensi menyatakan bahwa suatu kalimat akan bernilai benar jika pernyataan
yang terkandung di dalam kalimat itu bersifat koheren, konsisten, atau tidak
bertentangan dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya yang dianggap benar.
Contohnya, pengetahuan Aljabar telah didasarkan pada pernyataan pangkal yang
dianggap benar. Pernyataan yang dianggap benar itu disebut aksioma atau
postulat.
Resnick
(Resnick, 1998) menawarkan beberapa gagasan tentang kebenaran dalam matematika.
Resnick melihat setidaknya terdapat dua aspek kebenaran matematika: kebenaran
imanen dan kebenaran transenden ( Rauff, 2000:63). Kebenaran imanen dapat
diartikan bahwa sebuah kebenaran yang hanya berlaku untuk pernyataan yang ada
dalam lingkup matematika saja. Objek matematika diyakini kebenarannya dalam
konteks matematika saja. Dengan kata lain, pernyataan yang diyakini benar
secara matematika, belum tentu benar bila dilihat dari sudut pandang yang lain.
Kebenaran ini tidak bergantung pada hal-hal, hubungan, atau pengamatan di luar
bidang matematika (Rauff, 2000:64)
Kebenaran
matematika imanen dapat dipertentangkan dengan kebenaran matematika transenden,
yang mencari dukungan mengacu pada benda-benda fisik atau korespondensi antara
objek matematika dan objek non-matematika. Kebenaran transenden matematika
dibuktikan melalui eksperimen serta pembuktian. Sebagai contoh, sebagai
kebenaran transenden matematika, 2 + 1 = 3 membuat pernyataan tentang jumlah
orang di dalam mobil saya setelah saya dan anak saya bertemu dan menjemput
istri saya. Kebenaran persamaan itu dikonfirmasi melalui korespondensi untuk
dunia pengalaman saya. Saya telah mempelajari bahwa 2 + 1 = 3 adalah benar
dalam kasus ini karena Saya memahami konsep dari himpunan dan beberapa
prinsip-prinsip logika sederhana. Ini adalah kebenaran dalam konteks himpunan
dan logika dan akan berlaku bagi siapa saja bersedia menerimanya (Rauff, 2000).
Refrensi :
Imam
Wahyudi, Refleksi Kebenaran Ilmu, Jurnal Filsafat, Desember 2004, Jilid 38,
Nomor 3
Musrida, Irvan Jaya. 2010. Teori-Teori Kebenaran Filsafat. Jakarta : PT Gelora
Aksara Pratama
Picture : Google.com
.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar