KONTRIBUSI MATEMATIKAWAN BANGSA ARAB
Pahlawan-pahlawan ilmu pengetahuan banyak
yang terlupakan saat ini, khususnya matematika, semua berkiblat ke negera Barat
(Eropa dan Amerika). Kita hampir tidak pernah mendengar ahli matematika yang
berasal dari negeri Timur (Arab Muslim, India, Cina). Yang paling populer kita
dengar sebagai matematikawan Arab Muslim yang mempunyai kontribusi terhadap
perkembangan matematika adalah Al-Khawarizmi, dikenal sebagai
bapak Aljabar, memperkenalkan bilangan nol (0), dan penerjemah karya-karya
Yunani kuno. Al-Khawarizmi juga
orang yang pertama kali memperkenalkan penggunaan bilangan nol sebagai nilai
tempat dalam basis sepuluh.
Sistem ini disebut sebagai sistem bilangan desimal. Apakah
hanya itu kontribusi negera-negera timur (khususnya umat Islam) terhadap
perkembangan matematika? Memang yang banyak diketahui oleh orang saat ini yaitu
kontribusi Muslim bagi perkembangan matematika adalah terbatas pada aktivitas
penerjemahan naskah Yunani kuno ke dalam bahasa Arab. Banyak ahli sejarah
matematika yang tidak menampilkan tentang sumbangan besar Muslim terhadap
perkembangan matematika, baik karena sengaja atau ketidaktahuannya. Namun tidak
sedikit pula ahli sejarah matematika dari Barat yang lebih objektif dalam
mengemukakan fakta-fakta yang sebenarnya terjadi. Dalam satu sumber yang
ditulis oleh J. J. O’Connor dan E. F.
Robertson dikatakan bahwa dunia barat sebenarnya telah banyak berutang pada
para ilmuwan/matematikawan Muslim.
Kontribusi matematikawan Muslim brilian
pada masa permulaan adalah Al-Khawarizmi. Selain kontribusinya seperti yang
telah dikemukakan, Al-Khawarizmi dikenal pula sebagai pionir dalam bidang
aljabar. Penelitian-penelitian Al-Khawarizmi adalah suatu revolusi besar dalam
dunia matematika, yang menghubungkan konsep-konsep geometri dari matematika
Yunani kuno ke dalam konsep baru. Penelitian-penelitian Al-Khawarizmi
menghasilkan sebuah teori gabungan yang memungkinkan bilangan
rasional/irasional, besaran-besaran geometri diperlakukan sebagai “objek-objek
aljabar”.
Selain itu, konsep bilangan nol telah
berkembang sejak zaman Babilonia danYunani kuno, yang pada saat itu diartikan
sebagai ketiadaan dari sesuatu. Konsep bilangan nol dan sifat-sifatnya terus
berkembang dari waktu ke waktu. Hingga pada abad ke-7, Brahmagupta seorang matematikawan India memperkenalkan beberapa
sifat bilangan nol. Sifat-sifatnya adalah suatu bilangan bila dijumlahkan
dengan nol adalah tetap, demikian pula sebuah bilangan bila dikalikan dengan
nol akan menjadi nol. Tetapi, Brahmagupta
menemui kesulitan, dan cenderung ke arah yang salah, ketika berhadapan dengan
pembagian oleh bilangan nol. Hal ini terus menjadi topik penelitian pada saat
itu, bahkan sampai 200 tahun kemudian. Misalnya tahun 830, Mahavira (India) mempertegas hasil-hasil Brahmagupta, dan bahkan menyatakan bahwa "sebuah bilangan
dibagi oleh nol adalah tetap". Tentu saja ini suatu kesalahan fatal.
Tetapi, hal ini tetap harus sangat dihargai untuk ukuran saat itu. Ide-ide
brilian dari matematikawan India selanjutnya dipelajari oleh matematikawan
Muslim dan Arab.
Kemajuan
peradaban manusia sangat dipengaruhi oleh kemajuan penerapan matematika oleh
kelompok manusia itu sendiri. Walaupun peradaban manusia berubah dengan pesat,
namun bidang matematika terus relevan dan menunjang pada perubahan ini.
Matematika merupakan objek yang paling penting di dalam sistem pendidikan di
seluruh negara di dunia ini. Seperti kita ketahui dari negara kita, sejak
sekolah dasar sampai universitas syarat pengajaran matematika sangat dibutuhkan
terutama dalam bidang teknik dan lainnya. Tidak tertutup juga untuk ilmu-ilmu
sosial seperti ekonomi yang membutuhkan analisis kuantitatif untuk membantu
membuat keputusan yang lebih akurat.
Secara umumnya, sistem pendidikan
tidak akan mantap jika pelajaran-pelajaran mahasiswa-mahasiswa di perguruan
tinggi lemah dalam menguasai matematika. Karena itu matematika dapat dikatakan
sebagai tolak ukur kegemilangan intelektual suatu bangsa, yang artinya suatu
bangsa yang memasyarakatnya menguasai matematika dengan baik akan dapat
bersaing dengan bunga lain atau jatuh bangunnya suatu bangsa sangat ditentukan
oleh penguasaan bangsa tersebut akan matematika.
Refrensi :
Picture : Google.com






