Kamis, 22 September 2016

Filsafat Pendidikan Matematika



APA ARTI  MATEMATIKA??


            Apakah matematika itu? Matematika itu ilmu pasti, matematika itu adalah bahasa simbol, matematika itu adalah bahasa numerik, matematika itu berpikir logis / berlogika, matematika itu kuantitas dan besaran, matematika itu ilmu tentang bilangan dan ruang, matematika itu ilmu yang melalui pemikiran manusia, dan sebagainya. Sampai saat ini belum ada kesepakatan yang bulat antara para matematikawan apa yang dimaksud matematika. Seperti yang dikatakan Abraham S. Lunchis dan Edith N. Lunchis (1973) “apakah matematika itu? Dapat dijawab secara berbeda-beda tergantung pada bila mana pernyataan itu dijawab, dimana dijawabnya, siapa yang menjawabnya, dan apa sajakah yang dipandang termasuk matematika. 
Secara umum matematika itu meliputi: aljabar, geometri aritmetika dan statistika. 4 hal itu yang mendasari pengertian matematika. Sebagaimana James (1976) dalam kamus matematikanya dia mengatakan bahwa matematika adalah ilmu tentang logika mengenai bentuk, susunan, besaran, dan konsep-konsep yang berhubungan satu dengan yang lainya dengan jumlah yang banyak yang terbagi kedalam tiga bidang, yaitu aljabar, analisis dan geometri. Namun pembagian yang jelas sangatlah sukar untuk dibuat sebab cabang-cabang itu semakin bercampur. Sebagai contoh, adanya pendapat yang menyatakan bahwa matematika timbul karena pikiran-pikiran manusia yang berhubungan dengan ide, proses dan penalaran yang terbagi menjadi 4 wawasan yang luas, yaitu aritmetika, aljabar, geometri dan analisis dengan aritmetika mencakup teori bilangan dan statistika.

 Matematika terbentuk hasil pemikiran manusia yang behubungan dengan ide, proses dan penalaran (Ruseffendi ET, 1980 : 143). Matematika tumbuh dan berkembang karena proses berpikir atau bernalar. Oleh karena itu logika adalah dasar untuk terbentuknya matematika. Pada permulaanya cabang-cabang matematika yang ditemukan adalah aritmetika atau berhitung, aljabar dan geometri. Setelah itu ditemukan kalkulus yang berfungsi sebagai tonggak penopang terbentuknya cabang matematika baru yang lebih kompleks, anatar lain Statistika, Topologi, aljabar (Linier, Abstrak, Himpunan) Geometri (sistem geometri, geometri linier),analisis vektor dn lain-lain
Matematika dikenal sebagai ilmu deduktif, karena proses mencari kebenaran (generalisasi) dalam matematika berbeda dengan ilmu pengetahuan alam dan ilmu pengetahuan yang lain. Metode pencarian kebenaran yang dipakai adalah metode deduktif, tidak dapat dengan cara induktif. Pada ilmu pengetahuan alam adalah metode induktif dan eksperimen. Walaupun dalam matematika mencari kebenaran itu dapat dimulai dengan cara induktif, tetapi seterusnya generalisasi yang benar untuk semua keadaan harus dapat dibuktikan dengan cara deduktif. Dalam matematika suatu generalisasi dari sifat, teori atau dalil itu dapat diterima kebenarannya sesudah dibuktikan secara deduktif.
Berikut adalah beberapa contoh pembuktian dalil atau generalisasi pada matematika. Dalil atau generalisasi berikut dibenarkan dalam matematika karena sudah dapat dibuktikan secara deduktif.
1.    Bilangan ganjil ditambah bilangan ganjil adalah bilangan genap.
2.    Jumlah ketiga sudut dalam sebuah segitiga sama dengan 180º
Dalil-dalil dan rumus matematika itu ditentukan secara induktif (eksperimen), tetapi begitu suatu dalil ditemukan maka generalisasi itu harus dibuktikan kebenarannya secara deduktif.
Matematika adalah bahasa simbol karena matematika terdiri dari simbol-simbol yang
padat arti dan berlaku secara universal (umum). Matematika disebut ratunya ilmu karena matematika merupakan alat dan pelayan ilmu yang lain. Kegunaan matematika :
a)    Matematika sebagai ilmu yang lain, misal pada biologi, fisika dan lain-lain.
b)    Matematika dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari, misal pada perdagangan, pengukuran, ramalan / perkiraan, statistika, dan sebagainya.


Refrensi Buku :
- Herman, H. (1990). Strategi Belajar Matematika, Malang : IKIP Malang.
- Erman Suherman, dkk. (2001).Common Text Book; Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung : JICA-UPI



Tidak ada komentar:

Posting Komentar