AL-BIRUNI
Abu
Raihan Al Biruni atau lebih dikenal dengan nama singkat Biruni atau Al Biruni.
Tokoh yang berasal dari Persia ini terkenal di berbagai bidang, matematika,
astronomi, fisika filsafat, farmasi dan menulis ensiklopedia. Al Biruni juga
dikenal sebagai seorang guru. Beberapa muridnya juga menjadi populer sebagai
orang yang memiliki peran dalam perkembangan ilmu pengetahuan.
Al Biruni dilahirkan di daerah
pinggiran Kath dekat kota Khawarizm. Daerah ini sekarang dikenal dengan
Karakal, Pakistan. Dari bukti sejarah yang ditemukan nama Al Biruni berasal
dari nama tempat tinggalnya Birun. Garis keturunannya berasal dari Tajik,
memang bukan berasal dari garis keturunan darah biru. Selama 25 tahun kehidupan
umurnya hanya di habiskan di daerah kelahirannya. Ia termasuk ilmuan yang
memiliki modal kecerdasan matematis. Al-Biruni senantiasa menolak segala asumsi
yang lahir dari khayalan. Pemikirannya logis, tapi tidak pernah menafikan
teologi. Al-Biruni adalah pelopor metode eksperimental ilmiah dalam bidang
mekanika, astronomi, bahkan psikologi. Ia menghendaki agar setiap teori
dilahirkan dari eksperimen dan bukan sebaliknya.
Sepanjang
hidupnya, al-Biruni telah menghasilkan karya tidak kurang dari 146 buku (sebagian
ahli bahkan mengatakan bahwa al-Biruni telah menulis 180 buku). Kebanyakan
merupakan karya bidang astronomi yakni ada sekitar 35. Sisanya buku tentang
astrologi, geografi, farmakologi, matematika, filsafat, agama, dan sejarah.
Di antara pencapaian
intelektualnya tersebut, peletakan dasaar-dasar trigonometri merupakan prestasi
besar al-Biruni di bidang matematika. Trigonometri adalah cabang ilmu
matematika yang membahas tentang sudut segitiga.
Di
dalamnya terdapat istilah-istilah trigonometrik, yaitu sinus, cosinus, dan
tangen. Dasar-dasar dari teori trigonometrik ini ternyata telah lama dikenal
oleh ilmuan muslim terdahulu abad kesembilan Masehi. Al-Biruni dikenal sebagai
matematikawan pertama di dunia yang membangun dasar-dasar trigonometri.
Landasan-landasan
trigonometrik tersebut kemudian dikembangkan ilmuan Barat. Dan diaplikasikan ke
dalam beberapa cabang ilmu, seperti astronomi, arsitektur, dan fisika.
Al-Biruni sendiri pernah mengaplikasikannya secara matematik untuk membolehkan
arah kiblat ditentukan dari mana-mana tempat di dunia.
Meskipun
ilmu trigonometri telah dikenal di Yunani, akan tetapi pematangannya ada di
tangan al-Biruni. Ia mengembangkan teori trigonometri berdasarkan pada teori
Ptolemeus. Hukum Sinus (The Sine Law) adalah temuannya yang memperbaiki teori
Ptolemeus.
Hukum
ini merupakan teori yang melampaui zamannya. Seperti yang popular dalam
trigonometri modern terdapat hukum sinus. Hukum sinus ialah pernyataan tentang
sudut segitiga. Rumus ini berguna menghitung sisi yang tersisa dari segitiga
dari 2 sudut dan 1 sisinya diketahui.
Makanya,
teori trigonometri modern al-Biruni sesungguhnya sangat berjasa terhadap ilmu
aljabar Al-Khawarizmi. Sebab, berkat temuan al-Khawarizmi terutama temuannya
tentang angka nol, al-Biruni mampu mengangkat ilmu trigonometri Ptolemeus
menjadi teori yang berpengaruh hingga era matematika modern saat ini.
Al-Biruni
juga menjelaskan sudut-sudut istimewa dalam segitiga, seperti 0, 30, 45, 60,
90. Penemuan ini tentu sangat memberi kontribusi terhadap ilmu-ilmu lainnya.
Seperti ilmu fisika, astronomi dan geografi. Karena memang ilmu matematika merupakan
dasar dari ilmu-ilmu astronomi dan fisika.
Oleh
sebab itu, teori Ptolemeus sesunggunya masih sederhana dan belum bisa dikatakan
sebagai trigonometri dalam ilmu matematika modern. Hukum sinus itulah merupakan
hukum matematika penting dalam ilmu trigonometri.
Al-Biruni
telah memberikan sumbangan multidimensi terhadap dunia sains. Karya-karya
peninggalannya adalah bukti keluasan ilmunya terhadap berbagai disiplin
sekaligus. Selain mendapat pujian dari ummat Islam, al-Biruni juga mendapatkan
penghargaan yang tinggi dari bangsa-bangsa Barat. Karya-karyanya melampaui
Copernicus, Isaac Newton, dan para ahli Indologi yang berada ratusan tahun di
depannya. Baik ulama maupun orientalis sama-sama memujinya.
Salah
satu bentuk apresiasi ilmuan dunia hingga saat ini adalah pada tahun 1970, International
Astronomical Union (IAU) menyematkan nama al-Biruni kepada salah satu kawah di
bulan. Kawah yang memiliki diameter 77,05 km itu diberi nama Kawah Al-Biruni
(The Al-Biruni Crater).
Daftar
Pustaka :
http://www.hidayatullah.com/kajian/sejarah/read/2011/09/30/644/al-biruni-matematikawan-penemu-trigonometri-modern.html
Gambar : Google.com


Tidak ada komentar:
Posting Komentar